Covid 19: Api dalam sekam Pelajaran dari Israel dan Singapura

Covid 19: Api dalam sekam Pelajaran dari Israel dan Singapura

Penulis Dr. Sudjoko Kuswadji, MSc., Sp.OK., PKK

Indo Medika International, Jakarta- Saya beberapa kali memuji kawan saya dari Singapura yang sangat detail menyajikan masalah Kesehatan etnis: Cina, India dan Melayu. Mereka selalu merendah. We are only a piece of island. Indonesia adalah negara besar penduduknya banyak dan etnisnya juga berjibun. Kemana anda belajar semua itu.

Ya kami belajar di Israel. Singapura dan Israel adalah dua negara kecil. Sindroma negara kecil, selalu ingin menonjol di dunia. Mereka berlomba menjadi pengurus organisasi kesehatan di dunia internasional. Dalam soal Covid 19 mereka berdua menggunakan vaksin Moderna dan Pfizer. Dua vaksin yang punya efficacy tinggi. Belakangan mereka berdua ternyata sama-sama mengalami pelonjakan kasus. Mengapa?

Israel

Israel termasuk kategori negara dengan tingkat vaksinasi tertinggi. Sebuah anekdot menyebutkan, penggunaan masker di tempat umum sudah tidak terlihat lagi dan kehidupan kembali normal. Israel mengutip penelitian yang menyatakan, level perlindungan vaksin akan menurun seiring waktu, terlebih dalam melawan varian Delta.

Oleh sebab itu Israel ingin penduduknya mendapatkan dosis vaksin ketiga, untuk meningkatkan antibodi dan meningkatkan peluang melawan penyakit. Jumlah kasus harian COVID-19 terkonfirmasi (hitungan rata-rata 7 hari) mulai meningkat sejak 16 Juli, saat kasus infeksi harian hanya sekitar 19. Namun sejak 16 Agustus, rata-rata kasus harian meningkat menjadi 5.950. Hal ini kernungkinan berkaitan dengan Virus varian delta.

Ada rasa enggan untuk mengungkap bahwa varian delta mendominasi kasus COVID-19 di Israel. Beberapa setuju namun ada yang tidak percaya.

“Ada penurunan efektivitas vaksin dalam mencegah infeksi (64%) dan kasus bergejala (64%) sejak 6 Juni. Penurunan ini telah diobservasi bersamaan dengan penyebaran varian delta di Israel,” tulis laporan dari Kementerian Kesehatan Israel. Laporan Reuters yang menunjukkan berakhirnya pembatasan sosial di Israel berperan penting dalam penyebaran kasus. Israel telah mengizinkan penggunaan dua jenis vaksin COVID-19: Pfizer/BioNTech dan Moderna, yang keduanya merupakan vaksin mRNA. Dilaporkan kedua vaksin tersebut mempunyai efektivitas 95%. Tidak ada vaksin sempurna, yang menawarkan perlindungan 100% setiap saat, dan jumlah antibodi yang dihasilkan seseorang juga berbeda-beda. Ilmuwan berharap dapat melihat beberapa jumlah kasus “breakthrough infections” yakni infeksi pada seseorang sudah divaksin dua kali namun masih bergejala. Juga perlu ditekankan ada perdebatan tentang arti “divaksinasi sepenuhnya.”

Beberapa pendapat menyebutkan, setelah divaksinasi dua dosis dengan vaksin yang sama, apakah itu Pfizer/BioNTech atau AstraZeneca berarti sudah “sepenuhnya divaksinasi” dan negara seperti Inggris bersikeras bahwa vaksin tersebut harus dari dua produsen yang sama agar berstatus “divaksinasi komplit.

Sementara negara Iainnya, seperti Jerman dan sejumlah negara Eropa, sudah melaksanakan vaksinasi gabungan. Misaln ya vaksinasi pertama menggunakan AstraZeneca, saat dosis kedua mendapatkan vaksin Pfizer/BioNTech.

Ada banyak pendapat mengenai

kombinasi vaksin, khususnya kombinasi dengan vaksin Pfizer/BioNTech, yang dianggap lebih ampuh menangkal varian delta. Juga ada vaksin Johnson and Johnson yang hanya membutuhkan satu dosis vaksina untuk mendapat perlindungan yang cukup.

Namun juga ada negara seperti Israel yang menganjurkan warganya untuk divaksinasi dosis ketiga yang lazim disebut vaksin booster. Dalam seluruh kasus yang ada, data menunjukkan, jika ada kasus terobosan atau ‘breakthrough infections.” di antara penduduk Israel yang telah divaksinasi dua kali, gejalanya tidak terlalu parah dibanding orang yang tidak divaksinasi sama sekali.

Kementerian Kesehatan Israel mengutip penelitian dari produsen vaksin dan Lembaga Iain di seluruh dunia yang mengatakan, “vaksinasi dosis ketiga meningkatkan level antibodi dalam darah, meningkatkan kualitasnya (meningkatkan kemampuan vaksin menetralkan virus) dan bertahan cukup lama dalam tubuh. Hasilnya, peningkatan kemampuan antibodi untuk melindungi tubuh dalam memerangi virus.”

Singapura

Pada bulan Juni, pemerintah Singapura mengumumkan, bahwa Singapura menganut strategi akan hidup berdamai dengan Covid-19, dengan mengutamakan tracking dan treatment wabah cluster beserta vaksinasi dan masuk rumah sakit. Tak ada lock down, penutupan perbatasan, kerja dari rumah yang menjadi norma banyak negara di dunia.

Selama beberapa bulan kasus harian sedikit, menjelang akhir minggu 19 September 2021, kasus mencapai 1000 per hari, angka tertinggi sejak April tahun silam. Pejabat Kesehatan mencatat jumlah 1012 pada hari Minggu 19 September, sementara pada hari Sabtunya 18 September berjumlah 1009. Ada 873 pasien di rumah sakit (sementara hari Sabtunya 863), dengan 118 kasus serius yang perlu oksigen (hari Sabtunya 105) dan 21 dalam keadaan kristis di ICU (hari Sabtunya 18) Pemerintah menyebut kenaikan ini sebagai “tahapan menuju adaptasi” dengan hidup damai dengan Covid 19, sebagai lawan pembasmian virus dan varian.

Rumah sakit kebanjiran pasien namun 98% tanpa gejala atau ringan. Jadi mereka ditujuk ke dokter praktek umum agar RS bisa siap menerima yang parah. Akhirnya Singapura Kembali ke dasar. Back to basic.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *